28 Oktober 2009

Kenapa Dengan Namamu?

Cerpen DHIPA GALUH PURBA

Pasti dolog kana carita nu ieu mah, nyanggakeun!!

SEKS. Gadis seksi tetanggaku.

Aku pun kurang paham, kenapa orang tuanya memberi nama seperti itu. Apakah mereka tidak mempertimbangkan dulu baik-buruknya. Setidaknya mencari tahu dulu tentang arti nama tersebut. Atau mungkin juga mereka penganut paham William Shakspeare—what is in a name—sehingga tidak peduli lagi pada urusan nama anak gadisnya. Namun tetap saja keterlaluan. Celeno siah! Sontoloyo! Belegug!

Apapun namanya, ia sempat melempar kedipan kecil di warung kopi Mang Ujay. Waktu itu, aku tengah (sebut saja) sarapan pagi di warung Mang Ujay. Ya, sarapanku memang hanya sebangsa bala-bala, gehu, plus segelas air kopi—tetap kuberi nama sarapan pagi. Disamping sudah menjadi tradisi sejak kecil, ditambah lagi letak warung Mang Ujay yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalku. Sehingga hampir tiap pagi, aku selalu datang lebih awal ke warungnya. Tak jarang, akulah yang suka membangunkan Mang Ujay.

Ketika aku sedang mengafresiasi kenikmatan goreng bala-bala, gadis itu tiba-tiba datang dan duduk di sampingku; mengenakan kaos ketat dan rok mini, satu jengkal di atas lututnya. Tentu saja kedua mataku secara replek pula mencuri pandang ke arah wajahnya. Tampak matanya masih merah, seperti yang baru bangun tidur. Namun permukaan wajahnya sudah ditebali make-up. Tidak ketinggalan, hidungku segera melaporkan semerbak aroma yang menyengat.

“Mau bikin kopi, Non?” tanya Mang Ujay, seraya mengambil gelas dari rak.

“Gelas kecil aja, Mas. Pakai susu dikit. Oh ya, mas, di sini jualan jamu rapet ayu, nggak?” suaranya begitu nyaring dan bernada tinggi, membuatku tersentak. Di balik kenyaringan itu juga, seakan-akan aku mendengar suara desahan sensual yang merayu-rayu.

“Ya enggak atuh, Non. Ini mah warung kopi, bukan tempat berjualan jamu. Ada juga STMJ, mau?”

“Nggak ah,” jawabnya sambil menggelengkan kepala. Kemudian menoleh ke arahku dengan tatapan mata sayu. Tentu saja aku segera memalingkan muka ke arah Mang Ujay dengan hati berdebar-debar. Betapa tidak? Di saat ia menatapku, kulihat mata kirinya sengaja membuat kedipan kecil. Entah sekedar penglihatanku, atau memang begitu adanya.

“Sendirian?” tiba-tiba ia menyapaku. Aku hanya mengangguk saja, sambil menyembunyikan rasa kaget. Lagi-lagi, belum sempat rasa kagetku hilang, gadis itu mengulurkan tangan, mengajak bersalaman. Tampak untaian senyum menebar dari bibir merahnya. Kulihat juga di balik bibir merahnya, ada gigi-gigi putih berkilatan.

“Namaku Seks,” ucapnya.

“Seks?”

“Kau kaget, ya? Apakah namaku melanggar Undang-Undang Anti Pornografi? Aku tidak bercanda, namaku memang itu, tidak kurang-tidak lebih. Seks adalah kata yang indah, dan aku bangga dengan panggilan itu. Namamu?”

“Panggil saja Ajag,” jawabku, jujur.

“Ajag? bukankah itu nama anjing hutan yang sangat buas?” ia tertawa cekikikan sambil menjawab sendiri pertanyaanna. “Tapi kau tidak kelihatan buas. Kau sangat romantis. Di mana kau tinggal?”

“Di belakang rumahmu,”

“Jadi kau anak tukang nasi goreng itu?”

“Ya, emangnya kenapa?”

“Nggak apa-apa, cuma nanya aja koq. Sangat disayangkan aja, kita ini tetanggaan, tapi gak saling kenal. Padahal dalam hidup ini seharusnya tidak ada dinding pembatas…”

“Kau masih kuliah kan?” kucoba mengalihkan arah perbincangan.

“Buat apa kuliah. Aku lebih tertarik ngadain penelitian tentang seks. Ternyata seks itu indah. Sangat indah, seperti namaku!” jawabnya.

*

AKU menatap rumahnya yang megah. Setiap sore, gadis itu muncul di lantai tiga. Berdiri mematung, melemparkan pandangannya ke arah yang jauh. Sehingga aku mulai mengira-ngira; mungkin ia sedang dihantui rasa rindu pada seseorang; menanti kebahagiaan, dalam sepenggal harapan yang hampir sirna.

Sementara itu, ayahku tengah menyiapkan dagangannya untuk nanti malam. Aku masih duduk di kursi tua sambil menikmati secangkir kopi, menghisap rokok kretek kesukaanku, sambil menatap lantai tiga rumah megah.

“Hai, Ajag! kau taruh di mana botol kecap itu?” tiba-tiba ayah membentak.

“Mungkin masih di dapur, Beh!” kataku, agak kaget juga. Lamunanku serentak menjadi buyar. Kupalingkan mata ke arah gelas kopi.

“Tidak ada, Ajag! Lagi pula ngapain kerjamu hanya ngelamun? apa kau masih memikirkan kuliahmu yang gagal itu? Sudah kukatakan berkali-kali, lebih baik kau jualan nasi goreng saja! Kuliah di sana, kuliah di sini, gak ada satu pun yang tamat!”

“Aku tidak punya bakat kuliah, Beh,”

“Apa kau bilang?!”

“Euh… maksudku, aku gak punya bakat untuk jualan nasi goreng!”

“Lalu bakatmu apa? Main sinetron?!”

“Sudahlah, Bang. Si Ajag kan sedang stress!” ibu tiri datang. “Botol kecapnya sudah aye siapin!” ucapnya lagi.

Stress adalah kata yang sudah basi. Selalu diucapkan ibu tiri, kalau ayah sedang marah. Keluarga kami memang sangat sarat dengan stress. Terlebih lagi, di tengah kehidupan ekonomi yang kian lama makin terpuruk, tiba-tiba ayah berniat untuk kawin lagi. Ibu tiri akan dimadu. Kesimpulannya, jika niat ayah kesampaian, maka aku akan mempunyai dua ibu tiri.

Ayah memang haus perempuan. Setidaknya ia sudah tujuh kali menikah dan lima kali bercerai. Aku sendiri dilahirkan dari istrinya yang ketiga. Ibuku meninggal karena serangan kanker (menurut tetanggaku, kanker itu kambuh, akibat ayah yang saat itu mau kawin lagi). Bagiku tidak ada pilihan lain, kecuali mengikuti ayah. Berganti ibu tiri, berganti rumah kontrakan.

“Hai, anak stress! Ngapain lu dari tadi ngelihatin rumah itu? Apa lu tidak takut ketularan penyakit korupsi?” bentak ibu tiri sambil masuk ke rumah. Sebut saja rumah, walau ukurannya hanya setengah garasi rumah Seks.

*

DI warung kopi Mang Ujay, seperti biasa aku menikmati mie rebus. Sampai hari ini, aku tak pernah mempermasalahkan ibu tiri yang tidak pernah menyediakan makanan untuk sarapan pagi. Padahal sarapan pagi itu sangat penting. Namun aku mencoba tidak berprasangka buruk. Memang setiap jam delapan pagi, ayah masih meringkuk di kamarnya, dan ibu tiri sudah pergi menunaikan tugas sucinya, memeras keringat di pabrik tekstil.

Gadis itu muncul lagi. Aroma harum kembali menebar, memenuhi sudut-sudut ruangan warung Mang Ujay. Rok mininya makin tinggi, mungkin satu jengkal seperempat di atas lututnya. Bibirnya pun kian merah. Dan aku tidak lagi merasa canggung untuk berhadapan dengannya. Kami memang sudah akrab, karena hampir setiap pagi selalu bertemu di warung Mang Ujay. Seperti biasa, ia memesan kopi dengan sedikit susu.

Hampir setiap pagi juga, gadis itu membual dengan bahasa yang vulgar. Pembicaraannya seputar seks, tidak pernah selesai. Sebenarnya aku sudah muak mendengarnya, bahkan merasa jijik. Kurang pantas rasanya, persoalan pribadi seperti itu diceritakan oleh wanita belia yang belum menikah.

Ketika setiap sore Seks muncul di lantai tiga, aku melihatnya sebagai gadis yang ayu, jarang bicara, dan memendam kerinduan begitu mendalam. Namun di warung Mang Ujay, aku seperti berhadapan dengan PSK yang tengah menjajakan harga dirinya.

“Hai, Ajag, kau tahu nggak, seks itu indah?” katanya. Aku hanya menggelengkan kepala.

“Berbicara masalah seks, kadang-kadang kita terjebak pada permainan ranjang. Tidak juga sih, seks itu bukan berarti ranjang. Seks itu artinya jenis kelamin. Maka dari itulah seks sangat rahasia dan sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Kau tahu, mengapa orang-orang Tiongkok mendalami ilmu hubungan seks? Karena …”

“Mang, tambah lagi setengah…” aku menyodorkan mangkok.

“Mana ada, mie rebus setengah. Gak bisa. Ntar yang setengah lagi, buat apa?” Mang Ujay mengerutkan keningnya.

“Mempelajari seks itu penting, Ajag. Seperti kau makan mie rebus tiap pagi. Tapi mengapa ya, sebagian orang selalu menutup telinga, ketika seseorang berbicara tentang seks. Padahal kita perlu mempelajarinya, seperti juga anak-anak yang belajar berhitung. Eh, Ajag, terkadang seks dibuat jahat dan menyeramkan. Kau tahu siapa pelaku kejahatan seks?”

“Berapa, Mang? Ditambah kerupuk tiga, bala-bala empat, gehu satu!”

*

TIDAK seperti biasanya, gadis di lantai tiga itu menatap ke arahku. Agak jauh memang, tapi aku melihat ada kesunyian di balik tatapannya. Kami saling bertatap mata. Kulempar sebuah senyuman manis, tetapi sayang ia tidak membalasnya. Sialan. Seks, mengapa namamu seperti itu? Mengapa kau dilahirkan di tengah keluarga orang kaya? Sedangkan aku terlahir dari keluarga yang sangat sengsara?

Sore itu ayah membawa istri mudanya. Agak cantik dan cukup bahenol. Namun kelihatannya sangat pemalas. Lihat saja, ketika mereka mau memasuki rumah, ayah diminta mencopot sepatunya. Aku hanya menoleh sebentar, kemudian menatap lagi rumah megah itu. Seks telah menghilang. Entah ke mana.

Ibu tiri tua baru pulang dari pabrik. Sebelumnya ia menyetujui rencana ayah untuk menikah lagi. Alasan ayah memang cukup jelas dan masuk akal; ibu tiri tua tidak bisa memberi keturunan. Dan waktu itu, ayah memberi pilihan: Mau dicerai, atau dimadu? Ternyata ibu tiri tua masih tertarik pada nasi goreng masakan ayah, sehingga ia memilih untuk dimadu.

Namun apa yang terjadi? Pertengkaran ronde pertama sudah dimulai. Sore itu aku mendengar suara gaduh, percekcokan, diakhiri dengan suara barang pecah. Ibu tiri tua menjerit-jerit. Kulihat ia ke luar, membawa seluruh pakaian, dan menangis sembari mengeluarkan sumpah serapahnya. Sejak itulah, ibu tiri tua tidak pernah kembali.

*

“AJAG, kau pernah membaca buku Shu Ni Jing?”

Aku menggeleng.

“Seni permainan ranjang ada di situ. Orang-orang Tiongkok memang piawai dalam bermain seks. Kamasutra juga menurutku cukup baik. Bukan saja sekadar pengetahuan, tetapi kita bisa bertukar pengalaman seks dengan bangsa lain.”

Aku melihat pakaian gadis itu semakin transparan. Demikianlah, sehingga aku dan Mang Ujay dapat melihat apa yang ada di dalamnya. Namun aku malah jijik, dan mie di mulutku hampir tidak bisa kutelan.

“Seks, apa kau tidak bisa ngomong selain masalah seks? Mungkin kehidupanmu yang hedonis itu akan lebih menarik perhatianku,”

“Apa? Kau bilang aku hedonis? Mengapa kau beranggapan seperti itu?”

“Karena kau orang kaya. Dan orang kaya biasanya hanya mencari kesenangan!”

“Tidak, Ajag. Hubungan seks juga dapat dinikmati oleh orang miskin. Orang miskin dan orang kaya, tidak ada yang melarang untuk bermain seks. Termasuk kau dan aku. Orang lain sudah muak mendengar kata-kata seks, Ajag. Kecuali kau. Aku ingin kau menjadi pendengar setia, dan setiap pagi aku akan menyuguhkan cerita seks yang berbeda,”

“Bukankah seks itu masalah pribadi?”

“Tentu, tapi perlu juga diceritakan. Kau tahu, saat ini koran-koran sudah menutup rubrik konsultasi huungan seks. Dan situs-situs kesukaanku di internet sudah tidak beroperasi lagi. Lihat di setiap lampu stopan, baner anti-seks dipasang besar-besaran. Aku jadi bingung, kepada siapa akan keceritakan persoalan seks yang mendalam ini? Hanya kau, Ajag. Kau yang harus mendengarkannya!”

“Apakah lelaki yang haus perempuan dan bergonta-ganti istri, padahal ia bukan dari golongan keluarga mampu, dapat disebut pelaku kejahatan seks?”

“Nah, kau mulai tertarik, bukan? Aku suka sekali kau bertanya tentang seks. Begini, Ajag …”

*

DI rumah sumpek ini, aku sering mendengar tawa manja ibu tiri muda. Genitnya bukan main. Bukan, bukan pada malam hari, tetapi ketika aku sedang duduk di kursi tua. Tawa manja itu menggangguku. Sialan, sontoloyo, setan! Konsentrasiku untuk menatap gadis di lantai tiga, sempat buyar.

Gadis itu semakin ayu. Ia begitu manis dan lembut. Ketika ia berdiri di balik jendela kamar, siluet tubuhnya membentuk bayangan indah, dengan komposisi simetris dari atas sampai bawah. Tampaknya ia tidak suka bicara. Dan tatapannya itu, entah singgah di mana. Kerinduannya pada seseorang, tampak semakin mendalam. Seks. Bukankah gadis itu Seks? Penjaja cerita seks di warung kopi Mang Ujay? Atau…mungkin gadis lain? Tapi menurut Mang Ujay, di rumah megah itu tidak ada lagi sosok gadis, selain Seks. Bapak Kornagara, sang empunya rumah, hanya mempunyai seorang anak dan tiga istri (dua istri lainnya disimpan di villa, dan kabarnya tidak pernah diceritakan kepada istri tua).

“Hi hi hi…!” Suara ibu tiri muda, benar-benar menggangguku. Apalagi yang dikerjakan ibu tiri muda itu. Tawa manjanya semakin genit. Dan ayahku kemana? Biasanya ia menyiapkan dagangan untuk nanti malam. Roda nasi goreng masih kosong. Oh, ya, mungkin ayah belum bangun.

Setiap sore aku duduk di kursi tua. Gadis itu muncul di lantai tiga, menatap entah kemana, dan tawa manja ibu tiri muda terus mengganggu konsentrasiku. Saat itu, ayah tidak sedang menyiapkan dagangan. Roda nasi goreng masih kosong.

*

SUATU hari yang tak begitu indah. Langit mendung, menghitam. Aku tengah menikmati mie rebus dengan agak lahap. Mang Ujay sudah meninggal dunia, dan kini warungnya diurus oleh cucunya. Ayah juga sudah meninggal dunia, setelah puluhan ibu tiri muda tertawa manja setiap sore, di saat aku tengah menatap lantai tiga; dan saat tawa manja terdengar, ayah tidak sedang menyiapkan dagangan. Ketika ayah meninggal dunia, hanya mewariskan roda nasi goreng. Setiap malam aku mendorongnya, setelah duduk sebentar di kursi tua.

Mie rebus sudah hampir habis, ketika seorang nenek masuk dengan gigi ompongnya. Olala, aku terkejut bukan main, mengapa nenek itu mengenakan baju transparan dan rok mini, satu jengkal setengah di atas lututnya?

Ia duduk di hadapanku.

“Hai, Ajag…” katanya. “Kau tahu bahwa seks itu indah?”

Aku diam. Aku baru ingat, bahwa nanti sore harus duduk di kursi tua dan menatap ke lantai tiga rumah megah. Diam-diam aku jadi berpikir, kenapa aku tidak meminang gadis itu untuk dijadikan istri?

Aku berdiri. Menyodorkan selembar uang kepada pemilik warung. Di sebuah cermin yang dipasang di warung itu, aku melihat sosok lelaki tua, kulit keriput, gigi ompong, dan rambut yang dipenuhi uban. Aku hampir tidak percaya, bayangan di cermin itu adalah wajahku sendiri.***


Ranggon Panyileukan, 2002-2006


Keterangan Beberapa Kata:

Bala-Bala ; Makanan yang terbuat dari campuran sayuran (kol, toge, dsb) memakai terigu, dan digoreng.

Bahenol : Dari bahasa Sunda, artinya sama dengan seksi.

Belegug : dari bahasa Sunda, artinya bodoh sekali; tidak sopan.

Celeno ; Dari bahasa Sunda, artinya blo’on, bodoh.

Gehu : Singkatan dari toge dan tahu. Maksudnya toge dimasukan ke tahu, dibungkus pakai terrigu, kemudian digoreng.

Sontoloyo : dari bahasa Jawa, ungkapan ketidakpuasan.

Cerpen ini sudah diciba dikirimkan ke beberapa media massa, tetapi tidak ada satu pun yang bersedia memuatnya. Akhirnya cerpen ini diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda, dan sudah dimuat di Majalah Mangle.

Tidak ada komentar: