04 Maret 2010

Mencari Ahli Waris Pantun Bogor

Dalam buku sejarah atau cerita rakyat tidak banyak yang mengisahkan
secara detail tentang saat-saat terakhir kerajaan Pajajaran ketika
digempur oleh pasukan gabungan dari Demak, Banten, dan Cirebon tahun
1526 M. Sebagian besar dongeng rakyat Pasundan tentang masa-masa itu
selalu ditutup dengan kisah menghilangnya Prabu Siliwangi ke alam gaib
dan mengubah pengikutnya menjadi manusia harimau. Sedangkan dalam
Pantun Bogor terasa lebih masuk akal.

Dikisahkan saat pasukan Pajajaran semakin terdesak mempertahankan
keraton di Bogor, Raja Pajajaran Prabu Siliwangi membagi keluarganya
menjadi tiga kelompok untuk menyelamatkan diri. Sang Prabu beserta
rombongannya menuju pesisir Pantai Ujung Genteng, Sukabumi. Di tempat
tersebut rombongan membuat perahu untuk menyeberang ke Pulau
Nusalarang (sekarang Pulau Christmas). Namun, ketika perahu selesai
dibuat dan digunakan menyeberang, badai ombak besar mirip tsunami
menerjangnya hingga perahu pun hancur berantakan.

Sang Prabu akhirnya pasrah, kemudian ia membebaskan pengikutnya untuk
pergi ke mana pun menyelamatkan diri, ia sendiri memilih moksa. Di
tempat lain putri bungsu Prabu Siliwangi Dewi Purnamasari memilih
menyelamatkan diri ke wilayah Palabuhanratu. Sang Putri bersama
pengawalnya kemudian membentuk perkampungan yang lambat laun
berkembang menjadi pemerintahan kecil bernama Pelabuhan Nyai Ratu.

Pemerintahan dilanjutkan oleh putri semata wayangnya Dewi Mayang
Sagara yang pada tahun 1555 M mengganti nama kerajaan menjadi Kerajaan
Pakuan Pajajaran Mandiri. ,Namun kerajaan ini kemudian digempur hingga
tak bersisa oleh pasukan Kesultanan Mataram yang kala itu mulai
berkuasa di tanah Sunda. Sedangkan Putra Mahkota Pajajaran, Prabu Anom
Kean Santang menyelamatkan diri ke daerah sekitar Gunung Halimun
Sukabumi, menyamarkan diri sebagai Batara Cikal dan kemudian menjadi
nenek moyang masyarakat adat Banten Pancer Pangawinan.

Dalam Pantun Bogor juga terdapat Uga (ramalan masa depan), malah
kendati Pantun ini disusun pada abad ke-18 M, sudah bisa melukiskan
ciri-ciri beberapa Presiden RI di antaranya seperti sosok Bung Karno
disebutkan sebagai Raja make makuta buludru, unggah hulu banteng (Raja
mengenakan mahkota beludru/peci menaiki kepala banteng, lambang Partai
Marhaen). Presiden K.H. Abdurachman Wahid digambarkan sebagai ”Raja
Lolong Unggah Karaton” (Raja Bermata Buta Bertahta di keraton). Pantun
Bogor ditulis sekitar tiga ratus tahun lalu oleh seorang pujangga
misterius yang memiliki nama samaran Aki Uyut Baju Rambeng hidup di
sekitar Jasinga Bogor.

Naskah tersebut kemudian diwariskan kepada Rd. Wanda Sumardja seorang
Demang masa penjajahan Belanda. Naskah-naskah kemudian diwariskan lagi
kepada Raden Mochtar Kala asal Bogor yang kemudian lebih dikenal
dengan nama Rakean Minda Kalangan (RMK) sesepuh Bogor yang meninggal
tahun 1983 lalu dalam usia 79 tahun. Semasa hidupnya, RMK kerap
dijadikan narasumber oleh berbagai pihak tentang budaya Sunda. Namun,
dari sekian banyak yang belajar kepadanya, hanya dua orang yang
terpilih untuk mewarisi Pantun Bogor yakni sejarawan Drs. Saleh
Danasasmita dan Anis Djatisunda. Kini tinggal Anis Djatisunda (71)
yang masih hidup, tokoh berdarah Sunda dari ibu dan Sangihe Talaud
Sulawesi Utara dari ayahnya ini dikenal sebagai sesepuh budayawan
Sunda dan kerap diminta pendapatnya oleh berbagai pihak.

Anis menjelaskan bahwa Pantun Bogor diwariskan dengan budaya tutur, ia
dan almarhum Saleh Danasasmita dilarang keras mencatat saat menerima
Pantun Bogor episode per episode. Beberapa episode Pantun Bogor di
antaranya berjudul Kalang Sunda Makalangan, Pakujajar Beukah Kembang,
Pakujajar di Lawanggintung, Kujang di Hanjuang Siang, Dadap Malam
Cimandiri, Pajajaran Seren Papak, Curug Sipadaweruh, Tunggul Kawung
Bijil Sirung, Lawang Saketeng ka Lebak Cawene, dan Ronggeng Tujuh
Kalasirna.

Pantun Bogor dibagi menjadi dua bagian yakni Pantun Bogor Leutik dan
Pantun Bogor Gede. Pantun Bogor Leutik berkisah sekitar kehidupan
sehari-hari masyarakat Kerajaan Pajajaran atau tentang para putri raja
dan kesatria. Sedangkan Pantun Gede berkisah tentang ajaran agama
Sunda, silsilah Raja Sunda, Uga, dan pola pemerintahan Kerajaan Sunda.
Pada masa lalu Pantun Bogor disampaiakan oleh juru pantun sambil
diiringi petikan kecapi lisung senar tujuh khas Pajajaran yang kini
sudah punah.

Anis menegaskan bahwa Pantun Bogor yang ia jelaskan kepada khalayak
umum dewasa ini hanya diambil dari naskah Pantun Leutik, sedangkan
ungkapan Pantun Gede dengan teks aslinya masih dirahasiakan karena
sifatnya yang sakral. Bagian ini hanya akan diberikan kelak kepada
ahli waris Pantun Bogor, yang hingga kini belum ia temukan.

Anis berharap sebelum ajal menjemputnya, ia ingin menemukan pewarisnya
yang benar-benar mencintai Kasundaan, yang berkepribadian ”Nyunda,
Nyiliwangi, dan Majajaran” dan memiliki jiwa yang Saharigu, Sasusu,
Sahate jeung Sarancage (Sehidup dan Semati) dengan Kasundaan. Bila
tidak juga menemukan sosok yang sesuai, Pantun Bogor terpaksa akan ia
bakar, hal itu sesuai pesan mendiang Rakean Minda Kalangan. Akan
tetapi mudah-mudahan hal itu tidak terjadi, sebab bila kemudian harus
sirna karena dibakar tentu sangat disayangkan, pasalnya kedudukan
pantun ini bagi sebagian sejarawan dan budayawan memiliki nilai tinggi
dalam perjalanan sejarah sastra dan budaya Sunda. (Luki Muharam,
pegiat Lembaga Kebudayaan Cianjur)

Tidak ada komentar: