03 Oktober 2010

Imtihan di Tasikmalaya

Ada pagelaran seni tradisional. Ada sentuhan spiritual. Kelucuan dan keharuan melebur jadi satu.

Ki Lengser memimpin prosesi "mapag panganten".
Mengenakan baju lurik dan ikat kepala batik, seorang lelaki tua berdiri memunggungi hadirin. Kaki kanan dia tekuk sedikit, dengan telapak kaki tidak menyentuh tanah. Dia ayunkan tangannya seperti pesilat yang hendak mematahkan leher lawannya. Lalu dengan tiba-tiba dia sodorkan pantat, menggoyangnya maju mundur, dan tawa hadirin pun pecah.
Ki Lengser, demikian lelaki berkumis dan berjenggot putih itu dipanggil. Bersama para penari dan pengusung umbul-umbul, dia bertugas menyambut pengantin dalam prosesi “mapag panganten”. Kali ini yang disambut bukan pengantin beneran dalam resepsi pernikahan, melainkan pengantin siswa dalam acara imtihan.
Imtihan adalah istilah orang daerah Priangan untuk menyebut acara wisuda atau kenaikan kelas. Saya menyaksikannya akhir Juni lalu, di SMK Asy-Syakirin, Rajadatu, Cineam, Tasikmalaya.

Pengantin siswa duduk di 'pelaminannya', dinaungi payung, dan dikawal pengusung umbul-umbul.                                                                                                   
Setelah Ki Lengser menampilkan aksi kocaknya, empat pengusung umbul-umbul berjalan ke arah dua pengantin siswa yang duduk di bawah tarub, di antara hadirin. Empat penari, seluruhnya perempuan, lantas meliuk-liukkan tubuhnya, diiringi tetabuhan gamelan. Ki Lengser tidak tinggal diam. Dia ikut menari, tentu dengan gaya bodornya, sembari memandu para penari melangkah ke arah pengantin.
Di hadapan mereka, pengantin siswa duduk di bawah naungan payung besar. Ki Lengser memberi kode agar pengantin bangkit dari duduknya. Diiringi pembawa payung, penari dan pembawa umbul-umbul, pengantin pun melangkah. Para penari, yang berada di barisan terdepan, melakukan saweran, yaitu menabur-taburkan beras kuning hingga pengantin tiba di tujuannya.

Prosesi sungkem yang penuh linangan air mata.
Yang dituju adalah Bapak kepala sekolah yang duduk di depan panggung. Begitu tiba, dengan arahan Ki Lengser, kedua pengantin langsung bersimpuh. Pengantin laki-laki menjabat tangan kanan Kepala Sekolah, pengantin perempuan menjabat tangan yang sebelah. Mereka mencium tangan pahlawan tanda jasa itu. Mereka melakukan sungkem.
Saat prosesi sungkem berlangsung, suasana lucu langsung berganti menjadi haru biru. Diiringi suara gamelan dan monolog pembawa acara dalam bahasa Sunda, pengantin dan Kepala Sekolah seakan-akan sedang berdialog dengan hatinya yang terdalam.
“Kami mohon maaf sebesar-besarnya atas segala kesalahan kami sewaktu menuntut ilmu kepada Bapak-Ibu guru di sekolah,” ucap pembawa acara. Kedua pengantin tampak sesenggukan. MC juga mengucapkan terima kasih yang tulus kepada para guru dan meminta didoakan supaya ilmunya bermanfaat di dunia dan akhirat.
Bapak kepala sekolah, dengan punggung membungkuk dan air mata berlinang, juga meminta maaf apabila terdapat kehilafan saat mengajar. “Kami para guru juga mengucapkan selamat kepada kalian. Ingatlah selalu nasihat Bapak-Ibu guru meskipun kalian sudah lulus dari sekolah ini. Jangan pernah meningalkan shalat dan jadilah anak-anak yang sholeh,” ucap pembawa acara, mewakili suara para guru.
Para hadirin, dewan guru dan calon wisudawan larut dalam suasana haru itu. Banyak yang tak kuasa menahan tangis. Buru-buru mereka keluarkan tisu atau sapu tangan untuk menyeka air mata agar tidak merembes ke pipi. Ki Lengser, para penari, pengusung umbul-umbul dan pembawa payung berdiri dengan muka tertunduk. Mata mereka berkaca-kaca. Para penabuh gamelan juga tak luput dari suasana haru itu. Kelopak mata mereka ikut basah.

Menerima ijazah dan dikalungi medali alumni, pengantin siswa tak kuasa membendung air matanya.
Usai prosesi sungkem, ketika air mata belum sepenuhnya kering, kepala sekolah menyerahkan ijazah dan mengalungkan medali alumni. Pengantin siswa, dengan mata lembab, membalasnya dengan mencium tangan kepala sekolah. Khusus kepada pengatin laki-laki, kepala sekolah memeluknya, seakan-akan mereka akan berpisah untuk selama-lamanya.
Kepala sekolah kemudian menyerahkan laporan hasil belajar siswa tahun ajaran 2009/2010 kepada ketua komite sekolah. Keduanya bersalaman dan berangkulan. Ketua komite sekolah menyampaikan terimakasih atas jerih payah kepala sekolah dan seluruh guru. Pengabdian dan kerja keras mereka bukan hanya berhasil membawa seluruh siswa lulus ujian nasional, tetapi juga mengantarkan seorang siswa di sekolah ini meraih nilai ujian nasional tertinggi se-Kecamatan Cineam.

Satu per satu wisudawan menerima ijazah dan medali alumni

Dipandu Ki Lengser, pengantin dan Ketua Komite Sekolah kembali ke tempat duduknya. Setelah itu, para wisudawan bergegas ke depan untuk menerima medali alumni dari Ketua Yayasan. Para guru mendampingi Ketua Yayasan, bersama Kapolsek dan Komandan Koramil yang hadir dalam acara ini. Orang tua para siswa kemudian ikut bergerak ke depan. Mereka menjabat tangan kepala sekolah dan para guru satu per satu.
Sekitar jam sebelas siang, acara ini ditutup dengan doa, setelah sebelumnya dibuka dengan pembacaan ayat suci al-Quran, menyanyikan lagu “Indonesia Raya”, beberapa sambutan, prosesi mapag panganten dan sungkeman.

Ingat vs lupa
Bagi saya yang sekarang bermukim di Jakarta, imtihan ala Tasikmalaya ini memberikan kesan yang luar biasa. Saya jadi mengerti dan turut merasakan betapa di sebuah daerah yang jauh dari hiruk-pikuk kota, acara wisuda ternyata penuh warna dan sarat makna. Guru dan murid, juga pengurus yayasan dan wali murid, tak hanya terikat hubungan administratif, tetapi juga punya hubungan batin yang begitu dalam. Mereka menggambarkan keluarga besar yang sebenar-benarnya.
Saya betul-betul menyesal karena baru membikin tulisan ini beberapa bulan setelah imtihan itu berlalu. Saya lupa menaruh memory card yang menyimpan data berisi foto-foto acara tersebut dan baru menemukannya beberapa hari yang lalu.
Sejarah manusia adalah sejarah perjuangan ingat melawan lupa. Mungkin kelupaan saya tadi masih bisa dimaklumi. Sangat berbeda halnya bila kita lupa akan kekayaan tradisi kita, seperti tradisi imtihan di Tasikmalaya yang saya tulis di sini.
Alangkah berdosanya kita bila yang kita ingat dari acara wisuda hanyalah hura-hura dan konvoi di jalan raya. Betapa celakanya bangsa besar bernama Indonesia bila masyarakatnya tercerabut dari akar budayanya.

Menteng, 26 September 2010

Tidak ada komentar: