03 Oktober 2010

RONGGENG, DI ATAS DAN DI BELAKANG PANGGUNG

Wacana kajian esoteris, menyelam ke kedalaman makna RONGGENG, dengan harapan bisa mengenal nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam Seni Pertunjukan Rakyat Sunda ini khususnya lagi dalam sosok Penari Ronggeng.
Mengapa harus Folklore > Folklorik Sunda?
Folklore adalah cerita rakyat yang merupakan bagian dari endapan kebudayaan suatu bangsa, diwariskan melalui media lisan, tulisan, perbuatan dan bentuk budaya fisik/norma lainnya.
Dengan demikian Folklorik Sunda — dalam hal ini kesenian Ronggeng — merupakan endapan dari kebudayaan Sunda dalam bentuk fisikal (bisa diindra dan ditonton). Lalu endapan “nilai idea” apa yang dikandung didalamnya? Untuk mencari nilai-nilai idea mari kita telaah bersama melalui beberapa kajian berikut ini:
  1. Heurmanetika Filosfi sebagai Batu Uji Nilai Untuk mencoba mencari nilai-nilai idea yang bersifat abstrak memerlukan pisau bedah dan batu uji untuk menakar kekentalan nilai-nilai yang dikandungnya (Esoteris), maka digunakanlah kajian Heurmanetika, yaitu ilmu untuk membantu menemukan kebenaran yang hakiki dari satu masalah.
    Kajian Heurmanetika akan berkaitan erat dengan kajian Semiotika (ilmu tentang tanda dan simbol — The Meaning of Meaning, Ogden & Richards 1923). Makna (nilai-nilai) akan diinformasikan melalui tanda/simbol, dan simbol-simbol itu akan diwujudkan dalam karya budaya yang bisa diindera, antara lain dalam bahasa (cerita, sajak, peribahasa), lukisan, arsitektur, lagu, musik, tari dan sebagainya (Djuretna & Wagiyo, 1983:3).
    Adapun Dick Hartoko mengatakan bahwa simbol/lambang adalah suatu pola arti, sehingga apa yang dikatakan (pen: dieskpresikan) dengan apa yang dimaksud terjadi hubungan asosiasi (1986:190).
  2. Ronggeng di atas Panggung (yang kasat mata) & Ronggeng di belakang Panggung (Nilai Esoteris) Ronggeng ialah penari wanita dalam Seni Pertunjukan Rakyat. seperti penari Ronggeng Gunung, Ronggeng Bajidor, Ronggeng Ketuk Tilu, Ronggeng Belentuk Ngapung, dan sebagainya.
    Jumlah Ronggeng dalam satu pagelaran tidak tetap, antara seorang sampai beberapa orang. Hal ini sangat tergantung dari ketenaran kelompok keseniannya.
    Menurut konsep tradisional pertunjukan akan dibuka dengan tatalu (overture awal) setelah itu dilanjutkan dengan wawayangan, yaitu seluruh ronggeng yang ada akan tampil ke pentas. Mereka berdiri berjajar dengan diselingi gerakan-gerakan tari yang sederhana sebagai respon terhadap irama karawitan. Tidak menyuguhkan gerakan tari secara utuh. Tujuannnya memperkenalkan diri. Ini pun tidak diperkenalkan secara lisan, hanya untuk dikenal oleh penonton. Maksud lainnya untuk memudahkan penonton pria yang nanti ingin menari dengan Ronggeng yang dipilihnya.
    Singkatnya kata RONGGENG hanya ditujukan kepada penari Wanita yang siap menari berpasangan dengan penonton pria yang tertarik olehnya. Di beberapa daerah di Indonesua kata lain yang searti dengan ronggeng yaitu: tandak, tledek, inang, ni/nini.
    Tidak didapatkan istilah Ronggeng Pria di daerah Sunda
    Dalam naskah cerita lisan Sunda antara lain dalam bentuk cerita Pantun, ada cerita Ronggeng Tujuh Kala Sirna (RTKS), berasal dari daerah Bogor. Konon kabarnya karya cipta Muhtar Kala (almarhum), salah seorang Budayawan Sunda.
    Alur cerita Ronggeng Tujuh Kala Sirna, sama dengan cerita-cerita lama lainnya yang tokoh utamanya seorang satria yang bertapa untuk mencapai keinginannya, lalu digoda para bidadari — dalam hal ini diperankan Ronggeng. Ada dua kemungkinan yang akan terjadi, Sang Satria tergoda Ronggeng sehingga batal bertapa, atau Sang Satria mampu mengatasi godaan Ronggeng, sehingga berhasil tapanya. Temanya selalu jelas warna hitam dan putih. Berhasi atau gagal. menang atau kalah. Dalam cerita RTKS sang Satria berhasil tapanya, berarti mampu menahan godaan para Ronggeng.
    Menyimak alur sederhana di atas, kita sudah bisa menyimak makna fungsi semiotika dari peran RONGGENG, yaitu sebagai batu penguji, untuk men-tes keuletan sang Satria.
    Dalam kajian heurmanetika folklor Sunda, “Sang Satria” tidak selalu identik dengan laki-laki/pria secara genus, tetapi dimaknai dengan Daya Hidup/elan vital, semangat, etos juang.
    Sang Ronggeng dimaknai sebagai faktor penguji bagi keuletan sifat Kesatriaan yang ada di diri tiap insan, baik laki-laki maupun perempuan.
    Ronggeng yang tujuh adalah simbolisasi dari kelima indra yang tampak ditambah dengan dua indra yang tak tampak. Maka simbol dari ke-7 ronggeng tersebut adalah:

    1. Menguji daya tarik mata/penglihatan.

      Nini Paraji suka berkata (parancah) kepada bayi yang baru lahir: “Ulah sok tenjo-tenjona, ari lain tenjoeunana” (jangan kau lihat kalau bukan untuk kau lihat).
    2. Menguji daya tarik telinga/pendengaran.

      Parancahna: “Ulah sok sadenge-dengena, ari lain dengekeuneunana” (jangan kau dengar, kalau bukan yang harus kau dengar).
    3. Menguji daya tarik hidung/penciuman.

      Parancahna: “Ulah sok saambeu-ambeuna, ari lain ambeuaneunana” (jangan kau cium/hirup kalau bukan yang pantas kau cium/hirup).
    4. Menguji daya tarik mulut, fungsi mulut: berucap, makan/rasa lidah.

      Parancahna: “Ulah saomong-omong, ari lain omongkeuneunana, ulah sahuap-huapna ari lain huapkeuneunana (jangan bicara kalau bukan untuk kau bicara, jangan kau makan kalau bukan untuk kau makan).
    5. Menguji daya tarik tangan/kulit, rasa meraba/perabaan.

      Parancahna: “Ulah sok sacabak-cabakna ari lain cabakeunana” (jangan sembarang raba/pegang, kalau bukan yang pantas/hak kau raba/pegang).
    6. Menguji daya naluri (intuisi).

      Parancahna: “Ulah ceuk rarasaan tapi kudu ceuk rasa surasa” (jangan menurutkan perasaan tapi turutkanlah rasa yang sejati).
    7. Menguji daya semangat hidup.

      Parancahna: “Ulah sok luas-luis leos, tapi kudu cageur, bageur, bener, pinter, pangger, teger, wanter, singer, cangker” (jangan hanya berhias diri lalu pergi tanpa tujuan, tapi harus cageur, bageur, bener, pinter, pangger teger, wanter, singer dan cangker)
Itulah makna/tugas dari Ronggeng dalam kajian semiotika filsafat Sunda. Ternyata mulia sekali tugas SANG RONGGENG di BELAKANG PANGGUNG.
Yargon yang dikemukakan untuk Sang Ronggeng adalah:
tanpa sang ronggeng, tak akan ada sang kesatria.

kesatria yang gagah perkasa adalah yang mampu menghadapi dan mengatasi tantangan diri dan jamannya.

karena itu manusia harus mampu “ngigelan jeung ngigelkeun jaman”.
Jadi hakekat RONGGENG adalah TANTANGAN DIRI DAN JAMAN.
* Drs.R.H. Hidayat Suryalaga

Tidak ada komentar: