07 November 2009

Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak

Prof. Dr. KH Jalaluddin Rakhmat
Waktu itu, dini hari, di sebuah
rumah sederhana. Rahman dan isterinya terbangun karena mendengar derak pintu
terbuka. Dipasangnya telinganya tajam-tajam. Mereka yakin suara itu berasal
dari kamar anaknya, yang berusia tujuh tahun. Langkah-langkah kecil, terdengar
seperti berjingkat-jingkat, bergerak menuju satu-satunya kamar mandi di rumah
itu. Mereka mendengar suara air mengalir yang disusul dengan suara gerakan
membasuh. Langkah-langkah kecil itu kembali ke kamarnya. Walaupun sayup,karena
dinihari yang hening, mereka mendengar suara bacaan Al-Quran. Anak itu rupanya
sedang melakukan salat malam. Tiba-tiba keduanya merasakan air mata hangat
membasahi pipinya.
Kisah ini disampaikan kepada
saya oleh Pak Rahman, ketika saya masih menjadi guru mengaji anak-anak di
kampung tempat tinggal saya. Karena kejadian itu, kedua orang tua itu mulai
melakukan salat dan meninggalkan perjudian populer-lotto. Ini terjadi kira-kira
tiga puluh tahun yang lalu. Saya mendengar kejadian lain yang hampir mirip
dengan itu dua atau tiga tahun tahun yang lalu.
Kali ini, saya menjadi direktur
SMU (Plus) Muthahhari. Seorang ibu, orangtua murid yang baru lulus, datang dari
Banten. Ia meminta bantuan saya untuk mengirim Rahmat ke Jerman. Ia sudah
meyakinkan anaknya bahwa ia tidak akan mampu untuk membiayainya. Tetapi anaknya
berulang-kali meyakinkan orangtuanya, bahwa Tuhan pasti akan memberikan jalan.
Ditengah-tengah pembicaraan, ibu itu bercerita tentang perubahan perilaku
anaknya setelah masuk sekolah kami. Waktu pulang kampung, ia banyak menaruh
perhatian pada tetangga-tetangganya yang miskin. Menjelang Lebaran, seperti
biasanya, ibu itu memberi anaknya uang untuk membeli pakaian baru. Rahmat
menerima uang itu seraya minta izin untuk memberikannya pada tukang becak
tetangganya. "Uang ini jauh lebih berharga bagi dia ketimbang saya,
Bu," kata Rahmat. Ibunya bercerita sambil meneteskan air mata. Kedua kisah
nyata di atas menyajikan contoh anak yang cerdas secara spiritual. Keduanya
terjadi jauh sebelum konsep kecerdasan spiritual ramai diperbincangkan. Karena
saya tidak ingin bertele-tele mendiskusikan apa yang disebut SQ, dan hanya
untuk menyamakan pengertian SQ, saya akan mengutip lima karakteristik orang
yang cerdas secara spiritual menurut Roberts A.
Emmons, The Psychology of
Ultimate Concerns:
(1)   kemampuan untuk
mentransendensikan yang fisik dan material;
(2)   kemampuan untuk
mengalami tingkat kesadaran yang memuncak;
(3)   kemampuan untuk
mensakralkan pengalaman sehari-hari;
(4)   kemampuan untuk
menggunakan sumber-sumber spiritual buat menyelesaikan masalah; dan kemampuan
untuk berbuat baik.
Dua karakteristik yang pertama
sering disebut sebagai komponen inti kecerdasan spiritual. Anak yang merasakan
kehadiran Tuhan atau makhluk ruhaniyah di sekitarnya mengalami transendensi
fisikal dan material. Ia memasuki dunia spiritual. Ia mencapai kesadaran kosmis
yang menggabungkan dia dengan seluruh alam semesta. Ia merasa bahwa alamnya
tidak terbatas pada apa yang disaksikan dengan alat-alat indrianya. Anak Pak
Rahman pada kisah pertama memiliki kedua ciri ini, terutama ketika ia
menyampaikan doa-doa personalnya dalam salat malamnya.
Sanktifikasi pengalaman
sehari-hari, ciri yang ketiga, terjadi ketika kita meletakkan pekerjaan biasa
dalam tujuan yang agung. Konon, pada abad pertengahan seorang musafir bertemu
dengan dua orang pekerja yang sedang mengangkut batu-bata. Salah seorang di
antara mereka bekerja dengan muka cemberut, masam, dan tampak kelelahan.
Kawannya justru bekerja dengan ceria, gembira, penuh semangat. Ia tampak tidak
kecapaian. Kepada keduanya ditanyakan pertanyaan yang sama, "Apa yang
sedang Anda kerjakan? "Yang cemberut menjawab, "Saya sedang menumpuk
batu." Yang ceria berkata, "Saya sedang membangun katedral!"
Yang kedua telah mengangkat pekerjaan "menumpuk bata" pada dataran
makna yang lebih luhur. Ia telah melakukan sanktifikasi.
Orang yang cerdas secara
spiritual tidak memecahkan persoalan hidup hanya secara rasional atau emosional
saja. Ia menghubungkannya dengan makna kehidupan secara spiritual. Ia merujuk
pada warisan spiritual -seperti teks-teks Kitab Suci atau wejangan orang-orang
suci- untuk memberikan penafsiran pada situasi yang dihadapinya, untuk
melakukan definisi situasi.
Ketika Rahmat diberitahu bahwa
orang tuanya tidak akan sanggup menyekolahkannya ke Jerman, ia tidak putus asa.
Ia yakin bahwa kalau orang itu bersungguh-sungguh dan minta pertolongan kepada
Tuhan, ia akan diberi jalan. Bukankah Tuhan berfirman, "Orang-orang yang bersungguh-sungguh
dijalan Kami, Kami akan berikan kepadanya jalan-jalan Kami"? Bukankah
Heinrich Heine memberikan inspirasi dengan kalimatnya "Den Menschen
machtseiner Wille gro=DF und klein"? Rahmat memiliki karakteristik yang ke
empat. Tetapi Rahmat juga menampakkan karakteristik yang ke lima: memiliki rasa
kasih yang tinggi pada sesama makhluk Tuhan. "The fifth and final
component of spiritual intelligence refers to the capacity to engage invirtuous
behavior: to show forgiveness, to express gratitude, to be humble, to display
compassion and wisdom," tulis Emmons. Memberi maaf, bersyukur atau
mengungkapkan terimakasih, bersikap rendah hati, menunjukkan kasih sayang dan
kearifan, hanyalah sebagian dari kebajikan. Karakteristikterakhir ini mungkin
disimpulkan dalam sabda nabi Muhammad saw, "Amal paling utama ialah engkau
masukkan rasa bahagia pada sesama manusia."
Kiat-kiat mengembangkan SQ anak
Dengan pengertian di atas, berikut ini saya sampaikan secara singkat kiat-kiat
untuk mengembangkan SQ anak-anak kita.
(1)   Jadilah kita
"gembala spiritual" yang baik,
(2)   bantulah anak
untuk merumuskan "missi" hidupnya,
(3)   baca kitab suci
bersama-sama dan jelaskan maknanya dalam kehidupan kita,
(4)   ceritakan
kisah-kisah agung dari tokoh-tokoh spiritual,
(5)   diskusikan
berbagai persoalan dengan perspektif ruhaniah,
(6)   libatkan anak
dalam kegiatan-kegiatan ritual keagamaan,
(7)   bacakan
puisi-puisi, atau lagu-lagu yang spiritual dan inspirasional,
(8)   bawa anak untuk
menikmati keindahan alam,
(9)   bawa anak ke tempat-tempat
orang yang menderita, dan
(10)  ikut-sertakan anak
dalam kegiatan-kegiatan sosial.
1.   
Jadilah gembala spiritual. Orang tua atau guru yang bermaksud mengembangkan SQ
anak haruslah seseorang yang sudah mengalami kesadaran spiritual juga. Ia sudah
"mengakses" sumber-sumber spiritual untuk mengembangkan dirinya.
Seperti disebutkan di atas -yakni karakteristik orang yang cerdas secara
spiritual, ia harus dapat merasakan kehadiran dan peranan Tuhan dalam hidupnya.
"Spiritual intelligence is the faculty of our non-material dimension- the
human soul," kata Khalil Khavari. Ia harus sudah menemukan makna hidupnya
dan mengalami hidup yang bermakna. Ia tampak pada orang-orang di sekitarnya
sebagai "orang yang berjalan dengan membawa cahaya." (Al-Quran
6:122). Ia tahu ke mana ia harus mengarahkan bahteranya. Ia pun menunjukkan
tetap bahagia di tengah taufan dan badai yang melandanya. "Spiritual
intelligence empowers us to be happy in spite of circumstances and not because
of them," masih kata Khavari. Bayangkalah masa kecil kita dahulu. Betapa
banyaknya perilaku kita terilhami oleh orang-orang yang sekarang kita kenal
sebagai orang yang berSQ tinggi. Dan orang-orang itu boleh jadi orang-tua kita,
atau guru kita, atau orang-orang kecil di sekitar kita.
2.   
Rumuskan missi hidup. Nyatakan kepada anak bahwa ada berbagai tingkat tujuan,
mulai dari tujuan paling dekat sampai tujuan paling jauh, tujuan akhir kita.
Kepada saya datang seorang anak muda dari Indonesia bagian timur. Ia meminta
bantuan saya untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi swasta, setelah
gagal di UMPTN. Ia tidak punya apa pun kecuali kemauan. Sayang, ia belum bisa
merumuskan keinginannya dalam kerangka missi yang luhur. Berikut ini adalah
cuplikan percakapan kami:
* Saya ingin belajar, Pak
* Untuk apa kamu belajar?
* Saya ingin mendapat
pekerjaan.
* Jika belajar itu hanya untuk
dapat pekerjaan, saya beri kamu pekerjaan.
* Tinggallah di rumahku. Cuci
mobilku, dan saya bayar.
* Saya ingin belajar, Pak
* Untuk apa kamu belajar?
* Saya ingin mendapat
pengetahuan
* Jika tujuan kamu hanya untuk
memperoleh pengetahuan, tinggallah bersamaku. Saya wajibkan kamu setiap hari
untuk membaca buku. Kita lebih banyak memperoleh pengetahuan dari buku
ketimbang sekolah.
* Tetapi saya ingin masuk
sekolah.
* Untuk apa kamu masuk sekolah?
* Saya bingung, Pak.
Saya sebenarnya ingin
mengarahkan dia untuk memahami tujuan luhur dia. Dengan menggunakan teknik
"what then, se=F1or" dalam anekdot Danah Zohar,kita dapat membantu
anak untuk menemukan missinya. Jika kamu sudah sekolah, kamu mau apa? Aku mau
jadi orang pintar. Jika sudah pintar, mau apa, what then? Dengan kepintaranku,
aku akan memperoleh pekerjaan yang bagus. Jika sudah dapat pekerjaan, mau apa?
Aku akan punya duit banyak.Jika sudah punya duit banyak, mau apa? Aku ingin
bantu orang miskin, yang di negeri kita sudah tidak terhitung jumlahnya. Sampai
di sini, kita sudah membantu anak untuk menemukan tujuan hidupnya.
3.   
Baca Kitab Suci. Setiap agama pasti punya kitab suci. Begitu keterangan
guru-guru kita. Tetapi tidak setiap orang menyediakan waktu khusus untuk
memperbincangkan kitab suci dengan anak-anaknya. Di antara pemikir besar Islam,
yang memasukkan kembali dimensi ruhaniah ke dalam khazanah pemikiran Islam,
adalah Dari Muhammad Iqbal. Walaupun ia dibesarkan dalam tradisi intelektual
barat, ia melakukan pengembaraan ruhaniah bersama Jalaluddin Rumi dan
tokoh-tokoh sufi lainnya. Boleh jadi, yang membawa Iqbal ke situ adalah
pengalaman masa kecilnya. Setiap selesai salat Subuh, ia membaca Al-Quran. Pada
suatu hari, bapaknya berkata, "Bacalah Al-Quran seakan-akan ia diturunkan
untukmu!" Setelah itu, kata Iqbal, "aku merasakan Al-Quran
seakan-akan berbicara kepadaku."
4.   
Ceritakan kisah-kisah agung. Anak-anak, bahkan orang dewasa, sangat terpengaruh
dengan cerita. "Manusia," kata Gerbner, "adalah satu-satunya
makhluk yang suka bercerita dan hidup berdasarkan cerita yang
dipercayainya." Para Nabi mengajar umatnya dengan parabel atau kisah
perumpamaan. Para sufi seperti Al-’Attar, Rumi, Sa’di mengajarkan kearifan
perenial dengan cerita. Sekarang Jack Canfield memberikan inspirasi pada jutaan
orang melalui Chicken Soup-nya. Kita tidak akan kekurangan cerita luhur, bila
kita bersedia menerima cerita itu dari semua sumber. Saya senang berdiskusi
dengan anak-anak saya bukan hanya kisah-kisah Islam saja, juga cerita-cerita
dalam Alkitab, kisah-kisah dari Cina dan India, mitologi Yunani,
dongeng-dongeng dari berbagai tempat di tanah air, sejak kisah-kisah pewayangan
di Jawa sampai dongeng-dongeng dari Maluku. Begitu pula, saya membaca
cerita-cerita Andersen, fabel-fabelnya Jean de la Fontaine, sampai Crayon Sin
Chan. Saya selalu menemukan pelajaran berharga di dalamnya. Saya bagikan
pelajaran itu pada anak-anak saya, yang dilahirkan baik oleh isteri saya, maupun
oleh isteri-isteri orang lain (misalnya, yang saya ajar di sekolah saya).

5.   
Diskusikan berbagai persoalan dengan perspektif ruhaniah. Melihat dari
perspektif ruhaniah artinya memberikan makna dengan merujuk pada Rencana Agung
Ilahi (Divine Grand Design). Mengapa hidup kita menderita? Kita sedang diuji
Tuhan. Dengan mengutip Rumi secara bebas, katakan kepada anak kita bahwa bunga
mawar di taman bunga hanya merkah setelah langit menangis. Anak kecil tahu
bahwa ia hanya akan memperoleh air susu dari dada ibunya setelah menangis.
Penderitaan adalah cara Tuhan untuk membuat kita menangis. Menangislah supaya
Sang Perawat Agung memberikan susu keabadian kepadamu. Mengapa kita bahagia?
Perhatikan bagaimana Tuhan selalu mengasihi kita, berkhidmat melayani keperluan
kita, bahkan jauh sebelum kita dapat menyebut asma-Nya
6.   
Libatkan anak dalam kegiatan-kegiatan ritual keagamaan. Kegiatan agama adalah
cara praktis untuk "tune in" dengan Sumber dari Segala Kekuatan.
Ambillah bola lampu listrik di rumah Anda. Bahaslah bentuknya, strukturnya,
komponen-komponennya, kekutan cahayanya, voltasenya, dan sebagainya. Anda pasti
menggunakan sains. Kegiatan agama adalah kabel yang menghubungkan bola lampu
itu dengan sumber cahaya. Sembahyang, dalam bentuk apa pun, mengangkat manusia
dari pengalaman fisikal dan material ke pengalaman spiritual. Untuk itu,
kegiatan keagamaan tidak boleh dilakukan dengan terlalu banyak menekankan
hal-hal yang formal. Berikan kepada anak-anak kita makna batiniah dari setiap
ritus yang kita lakukan. Sembahyang bukan sekedar kewajiban. Sembahyang adalah
kehormatan untuk menghadap Dia yang Mahakasih dan Mahasayang!
7.   
Bacakan puisi-puisi, atau lagu-lagu yang spiritual dan inspirasional. Seperti
kita sebutkan di atas, manusia mempunyai dua fakultas, fakultas untuk mencerap
hal-hal material dan fakultas untuk mencerap hal-hal spiritual. Kita punya mata
lahir dan mata batin. Ketika kita berkata "masakan ini pahit", kita
sedang menggunakan indra lahiriah kita. Tetapi ketika kita berkata "keputusan
ini pahit", kita sedang menggunakan indra batiniah kita. Empati, cinta,
kedamaian, keindahan hanya dapat dicerap dengan fakultas spiritual kita (Ini
yang kita sebut sbg SQ). SQ harus dilatih. Salah satu cara melatih SQ ialah
menyanyikan lagu-lagu ruhaniah atau membacakan puisi-puisi. Jika Plato berkata
"pada sentuhan cinta semua orang menjadi pujangga", kita dapat
berkata "pada sentuhan puisi semua orang menjadi pecinta."
8.   
Bawa anak untuk menikmati keindahan alam. Teknologi moderen dan kehidupan urban
membuat kita teralienasi dari alam. Kita tidak akrab lagi dengan alam. Setiap
hari kita berhubungan dengan alam yang sudah dicemari, dimanipulasi, dirusak.
Alam tampak di depan kita sebagai musuh setelah kita memusuhinya. Bawalah
anak-anak kita kepada alam yang relatif belum banyak tercemari. Ajak mereka
naik ke puncak gunung. Rasakan udara yang segar dan sejuk. Dengarkan
burung-burung yang berkicau dengan bebas. Hirup wewangian alami. Ajak mereka ke
pantai. Rasakan angin yang menerpa tubuh. Celupkan kaki kita dan biarkan ombak
kecil mengelus-elus jemarinya. Dan seterusnya. Kita harus menyediakan waktu
khusus bersama mereka untuk menikmati ciptaan Tuhan, setelah setiap hari kita
dipengapkan oleh ciptaan kita sendiri.
9.   
Bawa anak ke tempat-tempat orang yang menderita. Nabi Musa pernah
berjumpadengan Tuhan di Bukit Sinai. Setelah ia kembali ke kaumnya, ia
merindukan pertemuan dengan Dia. Ia bermunajat, "Tuhanku, di mana bisa
kutemui Engkau." Tuhan berfirman, "Temuilah aku di tengah-tengah
orang-orang yang hancur hatinya." Di sekolah kami ada program yang kami
sebut sebagai "spiritual camping". Kami bawa anak-anak ke daerah
pedesaan, di mana alam relatif belum terjamah oleh teknologi. Malam hari,
mereka mengisi waktunya dengan beribadat dan tafakkur. Siang hari mereka
melakukan action research, untuk mencari dan meneliti kehidupan orang yang
paling miskin disekitar itu. Seringkali, ketika mereka melaporkan hasil
penelitian itu, mereka menangis. Secara serentak, mereka menyisihkan uang
mereka untukmemberkan bantuan. Dengan begitu, mereka dilatih untuk melakukan
kegiatan sosial juga.
10.  Ikut-sertakan anak
dalam kegiatan-kegiatan sosial. Saya teringat cerita nyata dari Canfield dalam
Chicken Soup for the Teens. Ia bercerita tentang seorang anak yang "catatan
kejahatannya lebih panjang dari tangannya." Anak itu pemberang,
pemberontak, dan ditakuti baik oleh guru maupun kawan- kawannya. Dalam sebuah
acara perkemahan, pelatih memberikan tugas kepadanya untuk mengumpulkan makanan
untuk disumbangkan bagi penduduk yang termiskin. Ia berhasil memimpin
kawan-kawannya untuk mengumpulkan dan membagikan makanan dalam jumlah yang
memecahkan rekor kegiatan sosial selama ini. Setelah makanan, mereka
mengumpulkan selimut dan alat-alat rumah tangga. Dalam beberapa minggu saja,
anak yang pemberang itu berubah menjadi anak yang lembut dan penuh kasih.
Seperti dilahirkan kembali, ia menjadi anak yang baik - rajin, penyayang, dan
penuh tanggung jawab.
Dikutip dari artikel lepas
Yayasan Muthahari
Mahabenar Allah yang
Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Semoga bermanfaat
Billahit-taufiq wal-hidayah
Wassalamualaikum wr.wb

Tidak ada komentar: