04 November 2009

Tiga Manusia Sunda Pengembara

Kurung batokeun atau ungkapan lain bengkung ngariung bongkok ngaronyok sebagai simpul orang yang tidak mau bergaul dan keluar dari kampung halamannya (jago kandang) yang sering dinisbahkan sebagai karakter manusia Sunda saat ini, sesungguhnya tidak tepat. Sebab kalau kita mengaca kepada naskah tua semacam Bujangga Manik, Sanghiyang Siksakandang Karesian, dan Carita Parahiyangan justru masyarakat Sunda adalah etnis pengembara ditopang juga dengan tipikal sebagai masyarakat huma yang tentu saja hidup secara berpindah-pindah.
Kapan Sunda diidentikeun sebagai manusia kurung batokeun? Tentu jawabannya tidak sederhana karena di sini membayangkan adanya diskontinuitas (keterputusan) katakteristik yang terjadi tidak dengan tiba-tiba dan sederhana tentunya. Jawaban itu perlu diurai baik dari tilikan psikologis, historis atau mungkin juga politis.
Catatan ini hanya akan menggambarkan justru tiga manusia Sunda yang menyempal dari tradisi dominan kurung batokeun itu yang berangkat dari tiga zaman berbeda.
Bujangga Manik
Pertama, manusia Sunda pengembara itu adalah Bujangga Manik. Bujangga Manik ini sebenarnya adalah judul naskah etnografis paling tua di tatar Sunda. Ditulis Prabu Jayapakuan, anggota keluarga keraton di Pakuan Pajajaran (ibu kota Kerajaan Sunda). Ia menobatkan dan menamai dirinya sebagai Bujangga Manik.
Sebagaimana hasil penelitian almarhum Edi S. Ekadjati, naskah ini berisi catatan perjalanan penulisnya tatkala mengelilingi Pulau Jawa dan Bali sebanyak dua kali. Dalam catatan tersebut ia menyebutkan nama-nama tempat, termasuk nama gunung, sungai, dan pulau, yang dilalui dan dilihatnya dari jarak dekat dan jarak jauh serta nama tempat asal orang dan kapal laut (juga tujuan kapal) yang bertemu dengannya. Ada sekira 450 nama tempat yang disebut oleh Bujangga Manik, yang meliputi Pulau Jawa, Bali,Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Semenanjung Malaya, dan Cina.
Pada umumnya, tafsir Edi Ekadjati, perjalanan Bujangga Manik itu melalui jalan darat dengan jalan kaki, kecuali dalam perjalanan pulang yang pertama dari Pemalang (sekarang di Jawa Tengah) ke Kalapa (sekarang Jakarta) serta menyeberang dari Balungbungan (Blambangan) di ujung timur Pulau Jawa ke Bali dan sebaliknya. Perjalanan darat Bujangga Manik di Pulau Jawa ditempuh dengan
menyusuri daerah pesisir utara dan pesisir selatan, kecuali perjalanan
keberangkatan pertama dari Pakuan melalui Puncak sampai ke daerah sebelah
utara Sumedang sehingga tampak Gunung Tampomas. Ia menyeberang Sungai
Cimanuk.
Intinya, perjalanan yang dilakukan Bujangga Manik adalah perjalanan budaya untuk mengenal kultur orang lain sekaligus mengenalkan kulturnya sendiri. Banyak jasa yang telah ditorehkannya. Banyak nama yang ia berikan untuk penemuannya atas daerah baru. Catatannya ini mengingatkan kita kepada Ibnu Batutah dalam tradisi Islam, atau Columbus ketika menemukan benua Amerika. Tentu jangan membayangka perjalanan saat itu bisa dilakukan dengan mudah, sebagaimana perjalanan saat ini ketika kendaraan sudah sangat canggih. Perjalanan itu mustahil dapat diwujudkan kalau dalam dirinya tidak nyampak keberanian yang tinggi, etos kerja melimpah dan rasa ingin tahu yang kuat.
Haji Hasan Mustapa
Kedua, Haji Hasan Mustapa. Refresentasi dari mansuia merdeka yang hidup sebelum kemerdekaan. Ia disebut-sebut sebagai The Great Sundanese Mystic (Seorang Sufi Besar Sunda). Ajip Rosidi mendeskripsikannya sebagai filsuf yang hanya dapat dihitung dan berkembang di lingkungan yang mengenal jiwa dan kebudayaan Sunda.
Haji Hasan Mutapa terkenal sebagai pengembara sepanjang masa. Hidupnnya diabadikan untuk melakukan perjalanan intelektual, spiritual dan kultural. Perjalanan intelektual-spiritualnya ia buktikan dengan berguru ke berbagai ulama baik yang ada di Nusantara seperti Kiai Haji Hasan Basri (Kiara Koneng, Garut), Kiai Haji Yahya (Garut), Kiai Abdul Hasan (Tanjungsari, Sumedang), Kiai Muhamad (Cibunut Garut), Muhamad Ijra`i (murid Kiai Abdulkadir, Surabaya) dan Kiai Khalil (Bangkalan, Madura) atau ke ulama yang ada di luar negeri seperti ke Syeh Muhammad, Syeh Abdulhamid, Syeh Ali Rahbani, Syeh Umar Sani, Syeh Mustomal Afifi, sayid Bakir, dan Sayid Abdul Janawi yang ada di Mekkah.
Sementara pengembaraan kulturalnya ke berbagai pelosok Jawa dan Madura ia lakukan bersama karibnya Snouck Hurgronye tahun 1889 seperti didokumentasikannya dalam Aantekeningen over Islam en Volklore in West en Midden Java.
Jiwanya tidak pernah reureuh (berhenti) mencari k(K)ebenaran seperti dengan memukau diutarakan dalam sebuah guguritan-nya: Jung nutur-nutur suhud//Kalangkang ti sanubari//Mapay talapakan sanubari//Di mana nya mukti sari//Di mana Alloh kaula//Bisi pahili papanggih//Kadungsang-dungsang kasandung//Manggih lain manggih lain//Rek nanya nanya ka saha//Keur pada ngalain-lain//Teu kaur asa paisa//Asa enya asa lain//Di buru da lain kitu//Di lain-lain da bukti//Di jaga-jaga ka saha//Di sidik-sidik aringgis//Wantu mapay nu neangan//Kapanggih aringgis lain
Reflkeksi dari pengembraannya itu kemudian tertuang dalam karya-karyanya yang sangat melimpah mencapai 54 buah buku dan 10.000 guguritan dengan tema yang cukup beragam dan muatannya yang mendalam. Di antaranya, sebagaimana dicatat Ensiklopedi Sunda adalah Bab Adat-Adat Urang Sunda Jeung Priangan Liana ti Éta (1913), Leutik Jadi Patélaan Adatna Jalma-Jalma di Pasundan (1916); Pakumpulan Atawa Susuratanana Antara Juragan Haji Hasan Mustafa Sareng Kyai Kurdi (1925); Buku Pengapungan (Hadis Mikraj, tahun 1928); Syekh Nurjaman (1958). Buku Pusaka Kanaga Wara, Pamalatén, Wawarisan, dan Kasauran Panungtungan; Petikan Qur’an Katut Adab Padikana (1937) dan Galaran Sasaka di Kaislaman (1937) Aji Wiwitan (17 jilid) dan Kasful Sarair fi Hakikati Aceh wa Fidir (Buku Rahasia Sebetulnya Aceh dan Fidi).
Ajip Rosidi
Ketiga, manusia pengembara itu adalah Ajip Rosidi. Seorang Budayawan Sunda yang hidup secara ‘nomaden’: Jatiwangi-Bandung-Sumedang-Jakarta-Jepang dan sekarang ‘ngahiyang’ di Pabelan Jawa Tengah. Setiap tempat yang disinggahinya selalu diberi ‘virus’ yang mengakibatkan orang-orang sekelilingnya tertular intelektualismenya. Minatnya sangat beragam yang tentu bidang perhatian utamanya adalah kebudayaan. Concern kesundaannya sudah tidak ada yang menyangsikan. Karyanya ratusan terbentang mulai urusan puisi, cerpen, novel, esai, kritik sastra, ensiklopedi dan biografi. Dan yang lebih mengagumkan lagi sampai sekarang dengan kaca mata yang tebal masih aktif menulis dalam dua bahasa (Sunda – Indonesia) justru ketika kawan-kawan seusianya sudah banyak yang tidak menulis lagi.Lebih dari itu, tempat tinggalnya sekarang di kaki Candi Borobodur, ternyata jarak yang jauh dan usia yang tidak lagi muda tidak menghalanginya untuk terus mengembara dari satu kota ke kota lainnya, terutama ke Bandung dan Jakarta. Ajip Rosidi terkenal sebagai sosok yang suka bersilaturahmi. Beberapa hari yang lalu pengembaraannya yang lintas budaya membuahkan penghargaan dari pewaris Raja Mataram, Sri Sultan Hamungkubuwono. Alhasil, naskah Bujangga Manik, Haji Hasan Mustapa dan Ajip Rosidi lewat lakuning lampah-nya itu sejatinya hendak mematahkan stigma kurung batokeun yang kadung dinisbahkan kepada masyarakat Sunda yang menjadi bibit buit dari keterpurukan manusia Sunda saat ini. Minimal mereka telah memberikan pembelajaran pentingnya mengembara ke luar tanah air dan kampung halaman mereka.
ASEP SALAHUDIN,
pengamat kebudayaan Sunda, dosen di IAILM Pesantren Suryalaya Tasik

Tidak ada komentar: