16 Januari 2010

Rendra, Sunda, Kuya

Oleh Djasepudin
Nama itu kosong Ketenaran itu hampa Hanya karya yang nyata
Demikian salah satu pesan penyair, deklamator, dramawan, dan budayawan kelahiran Solo, 7 November 1935, WS Rendra (alm), yang patut kita renungkan dan larapkan dalam kehidupan kini dan akan datang, tak terkecuali untuk urang Sunda.
Paling tidak, jika kita memaknai pesan Rendra dengan jembar pikir dan kebeningan jiwa, kelakar Haji Hasan Mustapa tentang Sunda itu suda (kurang, lemah, atau lembek) dan sundek (sempit) tidak akan terbukti. Sebab, Sunda itu mesti cageur (sehat), bageur (baik) pinter, wanter (berani), singer (gesit), jembar (luas), maher dan motekar (kreatif).
Namun, dalam alam kesejagatan seperti kiwari, sejumlah tokoh dan organisasi kesundaan masih teperdaya dengan persoalan nama, terlampau anteng dengan buaian cerita kejayaan Sunda masa silam. Sunda hanya dijadikan dongeng untuk gengsi gagah-gagahan. Disadari atau tidak, mereka berbenam dengan pola pikir dan pola sikap menyesatkan.
Salah satu akibat Sunda terlampau ketelikung oleh kisah kejayaan karuhun, dalam pergaulan kehidupan nasional sekarang, Sunda kerap terbelakang, bahkan di sarakan-nya sendiri pun kian terpinggirkan. Tak percaya? Tak hanya pejabat eksekutif, yudikatif, atau legislatif, para kuli kasar atau pedagang kaki lima (PKL) yang memenuhi trotoar dan sebagian jalan umumnya dikuasai masyarakat non-Sunda. Tak percaya diri
Urang Sunda sejak dulu memang jarang terdengar menjadi imam, bahkan untuk menjadi makmum juga kerap menjadi korban. Ranah Sunda hanya dijadikan pijakan untuk mengembangkan ideologi dan kepentingan. Sikap biluk-menurut begitu saja-yang merasa cukup menjadi makmum sejatinya mencerminkan sikap inferioritas urang Sunda. Fenomena inferior lahir karena adanya perasaan kekurang(tidak)mampuan diri. Sering juga karena seseorang memiliki rasa-rumasa atau memang betul-betul mempunyai kekurangan secara fisik dan psikis.
Akibat lain, Sunda jadi eraan (tidak percaya diri), kumaha nu dibendo (pasrah pada ketentuan atasan), tidak peka pada keadaan, serta yang sangat memalukan adalah borangan (penakut) dan menggantungkan situasi pada orang lain.
Oleh karena itu, memerhatikan sepak terjang urang Sunda dalam kancah lokal dan nasional, Rendra yang mengenyam pendidikan di SD, SMP, SMA St Yosef, Solo; Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta; dan American Academy of Dramatical Art, New York, AS (1967) berkesimpulan, urang Sunda itu seperti kuya (kura-kura).
Kita tahu tabiat kura-kura. Orang Sunda kerap menyebut kuya batok, sangat-tepatnya-terlalu hati-hati. Kuya batok jarang menampakkan dirinya di hadapan umum. Kepalanya selalu berbenam di balik tempurungnya. Jikapun kepalanya keluar, tetapi bila ada makhluk lain (manusia) yang mendekatinya, secepat kilat kepalanya kembali ditarik. Kuya batok baru menampakkan jati dirinya bila keadaan dirasa aman. Meski terlalu hati-hati, dibandingkan makhluk air/amfibi lainnya, kuya batok terbilang panjang usia. Hal itu, saya pikir, buah dari memanfaatkan situasi, menghindari risiko, dan hanya cari aman sendiri.
Sunda yang oleh Rendra diidentikkan dengan kuya, saya pikir, bukan asal buka suara saja. Hal itu merupakan buah dari pengamatan dan pengalaman Rendra selama bergaul dengan urang Sunda di tingkat lokal atau nasional. Sebab, selain tinggal di Depok Jawa Barat, tak sedikit karya sajak/drama Rendra yang berlatar atau berasal dari Tatar Sunda, misalnya Perjuangan Suku Naga.
Sajak Rendra yang lain di antaranya Jangan Takut Ibu, Balada Orang-orang Tercinta, Empat Kumpulan Sajak Rick dari Corona, Potret Pembangunan dalam Puisi, Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta, Blues untuk Bonnie, Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api, Mencari Bapak, dan Rumpun Alang-alang.
Gambaran Sunda adalah kuya yang disimpulkan oleh penulis naskah drama Orang-orang di Tikungan Jalan, Sekda dan Mastodon dan Burung Kondor, Oedipus Rex, Kasidah Barzanji, Perang Troya Tidak Akan Meletus, dan Bip Bop ini, saya pikir, memang benar adanya, apalagi jika melihat realitas kesundaan ayeuna. Harus mandiri
Sadar dari Tatar Sunda tidak ada yang mencalonkan diri menjadi calon presiden dan wakil presiden, seakan tak memiliki rasa malu, sejumlah kalangan-konon menyebut diri mewakili orang Sunda-ngabring ke Jakarta menghadap dan mengharap alias meminta jatah ke salah satu kandidat kuat presiden agar di antara rombongan atau orang-orang pilihannya, ada yang ditunjuk mendapat kursi menteri di kabinet presiden terpilih.
Nyata, hal itu melebihi sifat kuya, cari nyamannya doang. Yang lebih parah lagi, nyiar untung ti nu enteng, ngising tapi embung ngisang, hayang ngarih tapi teu ngarah, hayang ngakeul tapi teu ngakal, atau ingin sesuatu (jabatan/kekuasaan), tetapi malas bekerja. Inginnya disuapi atau diberi saja.
Padahal, salah satu arti Sunda, kata budayawan RH Hidayat Suryalaga, adalah terang. Cahaya kehidupan untuk semua. Penerang agar kita tidak sesat jalan. Dengan kata lain, Sunda harus mandiri dan malah harus memberi. Kala meraih keinginan mesti melalui perjuangan. Hal itu, saya pikir, sungguh sesuai dengan salah satu pokok pikiran pidato kebudayaan Rendra di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 10 November 1997, yang berbunyi: Kesadaran adalah matahari Kesabaran adalah bumi Keberanian menjadi cakrawala Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.
dimuat di Kompas Jabar, Sabtu, 12 September 2009

Tidak ada komentar: