28 Oktober 2009

Menyusuri Gank Monyet Cagar Alam Pananjung

Oleh PANDU RADEA



Si Condor, Legenda Monyet Cagar Alam Pananjung

Prilaku monyet memang mirip manusia, tidak heran karena binatang mamalia ini merupakan kerabat terdekat manusia. Salah satu kemiripannya adalah cara hidupnya yang selalu berkelompok dalam kawasan tertentu. Umumnya monyet masih banyak dijumpai diwilayah hutan maupun pegunungan dengan populasi yang relatif stabil. Monyet pun terkadang menjadi hama bagi petani yang memiliki ladang di wilayah perbatasan habitatnya. Peranjahan tersebut terjadi manakala sumber makanan dihutan mulai berkurang disebabkan antara lain semakin sempitnya wilayah tempat tinggal mereka akibat perambahan hutan.

Salah satu habitat monyet yang tetap terjaga adalah di kawasan Cagar Alam Pananjung di ujung selatan Pantai Pangandaran. Kawasan Cagar Alam ini merupakan salah satu tempat yang masih dianggap sisa dari ekosistem hutan dataran rendah di Jawa Barat dengan luas keseluruhan mencapai 530 hektare. Sedangkan wilayah yang sudah ditetapkan sebagai kawasan wisata alam seluas 37,70 hektare. Monyet yang terdapat di Kawasan ini merupakan jenis Monyet Ekor Panjang (Macaca Pascicularis) dan Lutung (Prebytis Cristata).



Khusus mengenai Monyet Ekor Panjang, sebarannya terbagi dalam dua wilayah yaitu kelompok-kelompok yang mendiami taman wisata dan kelompok yang tinggal di pedalaman hutan wisata. Walaupun sama-sama sejenis namun sifat dan karakteristiknya sedikit berbeda. Monyet taman wisata umumnya lebih “someah” terhadap manusia dibandingkan dulur-dulurnya yang yang tinggal di leuweung jero. Sifatnya yang tidak takut manusia itu dikarenakan seringnya berinteraksi dengan manusia semenjak kawasan tersebut sering dikunjungi wisatawan.

Dengan diiming-imingi sebungkus kacang atau makanan ringan lainnya, kelompok monyet yang biasanya banyak menghabiskan waktu diatas pohon mulai berani turun dan mendekati manusia untuk mendapatkan beberapa cuil makanan. Lambat laun merekapun mulai terbiasa wara-wiri di daratan sembari menunggu jatah makanan dari pengunjung. Bahkan tidak aneh jika melihat ada orang datang sambil membawa tas atau kantung, gerombolan monyet itu akan segera menyambutnya. Tentu saja hal itu menjadi hiburan tersendiri. Sehingga sebelum masuk, biasanya pelancong sering disarankan untuk membawa sekedar oleh-oleh untuk si ekor panjang.

Sedangkan monyet yang tinggal di pedalaman umumnya lebih pemalu dan banyak menghabiskan waktu diatas pohon. Selain itu warna bulunyapun terlihat lebih bule. Demikian pula dengan komunitas lutung yang setali tiga uang dengan kelompok ini. Menurut Aweng, Iwan dan Adeng, tiga orang guide yang menemani Priangan mengamati prilaku Monyet Ekor Panjang di taman wisata, ternyata ada 7 “gank” monyet yang berkuasa di 7 wilayah berbeda. Setiap ganknya beranggotakan sekitar 25-30 ekor dan masing-masing genk memiliki pemimpin yang merupakan monyet terbesar dan terkuat di kelompoknya.

Ketujuh monyet yang merajai wilayahnya itu telah dikenal baik oleh para Guide maupun oleh warga setempat, sehingga diberi nama sesuai dengan penampilannya. Namun, diantara tujuh raja tersebut tidak ada yang mampu melebihi kebesaran nama Si Condor. Rupanya dalam dunia permonyetan, Si Condor adalah monyet legendaris yang mampu menundukan ketujuh bos monyet yang berkuasa pada jamannya. Si Condorlah satu-satunya monyet yang bebas seenaknya keluar masuk wilayah kekuasaan para jeger monyet yang biasanya selalu dijaga ketat oleh setiap kelompoknya.





Si Berengut, The Rising Star

Sepak terjang Si Condor dalam menaklukan 7 bos monyet bukanlah omong kosong karena diakui sendiri oleh para guide yang biasa bekerja di Taman Wisata. “ Si Condor memiliki pengaruh yang luas bagi kawanan monyet ekor panjang di taman wisata ini. Sifatnya sangat agresif bahkan selain suka merampas makanan yang dipegang pengunjung si Condor juga berani menyerang manusia sehingga banyak juga pengunjung yang ketakutan jika berurusan dengan Si Condor” Ujar Iwan diamini oleh Aweng dan Adeng.

Adeng juga menambahkan bahwa prilaku Si Condor semakin semakin hari tambah liar bahkan cenderung gila sehingga membahayakan bagi pengunjung, akhirnya dengan pertimbangan berat Raja Monyet ini harus tewas di eksekusi mati oleh petugas yang berwenang dalam penanganan satwa liar sekitar 2 tahun yang lalu. Sejak kematian Si Condor akhirnya 7 gank monyet kembali merdeka dan mengusai wilayahnya masing-masing tanpa harus membayar “upeti”.

Menurut mereka bertiga, saat ini yang menjadi raja-raja wilayah diantara kelompok monyet tersebut yaitu, Si Boni penguasa di Kawasan Gua Jepang, Si Babon penguasa di Gua Lanang, Si Rawing di Gua Parat, Si Bingkeng di Sekitar Situs Batu Kalde, Si Codet di kawasan Pasir Putih barat, dan si Berengut di sekitar Pasir Putih ujung. Sedangkan si Black Face penguasa wilayah Gua Panggung telah mati sekitar 6 bulan yang lalu akibat keracunan dan sampai saat ini penggantinya belum terlihat “kiprahnya” sehingga belum mendapatkan gelar.

“Dingaranan kitu teh pedah beungeutna hideung. Eta monyet kaitung gede kawani najan suku katuhuna cingked. Da mun ningali jalma nu nyampeukeun teh sok siap masang kuda-kuda. Jiga nu boga kaceuceub, panginten sukuna cingked teh urut ditandasa ku jelema.” Papar Adeng. Saat ini sosok monyet yang tengah naik daun adalah si Berengut dan si Bingkeng, bahkan si Berengut mulai melebarkan pengaruhnya ke wilayah-wilayah tetangganya. Sesuai dengan namanya, tampangnya memang sangat judes dan sangar ditunjang oleh taringnya yang panjangnya mencapai 3 cm.

“Jigana Si Berengut aya turunan ti Si Condor, abdi kantos rek duel jeung manehna basa si Berengut maling kantong pengunjung nu nuju ngojay. Kapendak ku abdi diudag kalahka malik nyerang. Najan di baledog ku keusik oge teu sieuneun. Untung aya rerencangan nu mantuan maledog ku taneuh. Tah ari ku taneuh mah sieuneun, manehna kabur bari ninggalkeun kantong nu rek dipalingna.” Jelas Adeng menceritakan pengalamannya.

Lain halnya dengan si Bingkeng yang ekornya memang bengkok. Monyet yang satu ini jangan dianggap gegabah dibalik penampilannya yang tenang dan terkesan so kenal so akrab ternyata memiliki reputasi buruk bagi anak-anak. “Aya murangkalih nu di jenggut rambutna teras digusur. Untung teu nanaon da enggal di gebah ku taneuh. Tos dua kali kajantenana, gara-gara suuk nu di parabkeun ku eta murangkalih ka si Bingkeng seep.” Kata Adeng.

Baik Iwan, Adeng maupun Aweng menyatakan bahwa memang prilaku monyet di Cagar Alam Pananjung unik-unik. Untuk sumber makanan, Monyet Ekor Panjang tidak hanya memakan tumbuh-tumbuhan namun satwa ini juga memakan kepiting, ketam atau satwa kecil lainya. Uniknya monyet yang dianggap pemimpin tidak bersifat egois di dalam kelompoknya. Jika menemukan sumber makanan, biasanya selalu memberitahu anggotanya untuk dimakan bersama-sama.



Si Santi, Sang Primadona

Setiap komunitas monyet memiliki daerah kekuasaanya masing-masing. Dan untuk menandai batas wilayah biasanya dengan aroma air kencingnya. Tak jarang diantara kelompok-kelompok tersebut terjadi tawuran jika terjadi pelanggaran batas teritorial serta kepergok oleh si empunya tempat. Maka jika itu terjadi, pekikan perangpun akan terdengar riuh di dalam hutan. “Silih hereng, silih gos bari nembongkeun sihung. Tapi biasana nu tarung mah rajana, ngan tara katingal. Tapi tiasa dicirikeun da sok aya wae nu tatu. Contona model si Rawing da ceulina rawing, Si Codet da aya tapak codet, si Bingkeng da tulang buntutna jiga potong. Nya panginten eta teh luka tina duel tea.” Ujar Iwan.

Dari sekitar 175 ekor Monyet Ekor Panjang yang hidup berkomunitas di Taman Wisata, nama Si Santi cukup terkenal di kalangan para guide. Entah kenapa monyet betina ini dinamakan sama dengan manusia. yang jelas Si Santi merupakan satu-satunya monyet jinak yang dapat dan mau dielus-elus oleh pengunjung, tentu saja dengan imbalan sekantung kacang. Para guide yang sudah biasa bergaul dengan monyet di taman Wisata dapat mengenali ciri-ciri setiap monyet dan kelompoknya. Karena mengenal dan memahami dunia monyet merupakan salah satu wawasan penting untuk memberikan penjelasan kepada setiap pengunjung yang membutuhkan informasi.

Dan tidak hanya dunia monyet saja, tapi termasuk juga didalamnya adalah, flora, lingkungan laut, pantai, gua, situs sejarah maupun satwa liar lainya seperti, Banteng (Bos Javaniscus), Rusa (Carvus Timorensis), Lutung (Prebytis Cristata), Kalong (Pteroditus Vamphyrus), Tando (Cenocephalus Varegatus), Jelarang (Ratufa Bicolor), Kancil (Tragulus Javanica), Musang (Vivericula Malarencis), Landak (Hystrix Javanica), Trenggiling (Manis Javanica), serta berbagai jenis burung diantaranya Kangkareng (Anthacuceros Convexus) dan Ayam Hutan (Gallus Gallus Varius).

Pada dasarnya monyet-monyet di Taman Wisata Pananjung merupakan monyet liar yang beradaftasi setelah habitatnya menjadi lingkungan wisata yang kerap dikunjungi oleh manusia. Keberadaanya menjadi daya tarik tersendiri disamping daya tarik lainnya yang sangat beragam dan mempesona. Populasi monyet-monyet tersebut lebih cenderung oleh seleksi alam. Yang tua dan lemah akan tersingkirkan oleh yang muda dan sehat terutama dalam persaingan makanan. Menurut Aweng dulu pernah ada pemaksinan bagi monyet-monyet oleh ahli binatang dari Jepang. Cara menangkapnya dengan dibius memakai sumpit. Cara tersebut dipergunakan juga untuk menangkap binatang-binatang lainnya terutama yang sakit untuk diobati

“Si Santi Biasa na tara tebih ti Gua Jepang. Da kalebetna kana genk si Boni. Tapi kadang-kadang sok ngiring oge kana rombongan si Bingkeng. Nya rada mahiwal oge da biasana monyet mah tara midua.” Imbuh Aweng. Menurut mereka bertiga, saat ini Si Santi tengah hamil. Hamilnya sang primadona menjadi rumor tersendiri bagi ketiga guide ini. Mereka iseng menduga-duga siapakah pejantan tangguh yang melakukan perbuatan mesum tersebut. Dugaan kuat mengarah antara Si Boni dan Si Bingkeng, “ Soalna Si Santi sok aya di dua rombongan eta. Najan si Berengut keur ngetop, jigana si Santi mah moal daekeun, da si eta mah beungeutna na oge ‘ndeso pisan jeung kucem” Ujar Adeng diambut gelak tawa rekannya.***

Tidak ada komentar: