28 Oktober 2009

Siit Uncuwing

Cerpen RIEKE DIAH PITALOKA


Setiap pagi, bila langit sedang bahagia, kalangkang gunung menyerung kota kecil itu. Warnanya lebih tua dari langit, meski sama-sama biru. Saat matahari menggeliat, raut pegunungan ikut merona. Lekuk-lekuk ngarai ditutup rerimbun hijau bagai pinggang dan pinggul gadis-gadis menari.



Tatkala cahaya pagi menyentuh bumi, sungai-sungai keperakan, berkerlip menyilaukan. Seperti air sungai yang membelah kota kecil itu. Ada jembatan di atasnya, jalan raya tepatnya. Trotoar menjepit kiri kanan jalan. Dulu, setiap hari jalan itu dilewati Arum dan Nining. Tiap pagi mereka berangkat sekolah berjalan kaki, dua setengah kilometer dari rumah. Sangat pagi. Waktu membuka pintu, kabut berebut kecup pipi mereka. Satu dua kunang-kunang masih bermain di sela langkah. Embun basahi sepatu sekolah.


Arum paling senang saat melintas di atas jembatan. Di bawah, air mengalir tenang meski dicumbu fajar. Gairah sungai hanya tersirat dari kilau berlian di riak air di antara bebatuan. Sungai itu selalu mengalun perlahan. Tapi semua orang tahu, sungai itu juga bisa mendidih. Beberapa kali ada penduduk hanyut. Sebab air tanpa beri tanda bergulung-gulung dari arah hulu, menggerus apa saja. Itu bisa terjadi meski di siang terik. Kalau sudah begitu orang-orang di tepi sungai, orang-orang di atas jembatan akan berteriak, “caah caah caah!“


September.

Tak ada yang berubah dari kota kecil itu. Pada bulan yang sama, tiap tahun, langit kadang biru, kadang kelabu. Hujan malas berkunjung. Paling seminggu sekali. Itu pun bila awan sudah terlalu letih menggendong air. Air yang dicurahkan langit sudah pasti akan susuri sungai itu. Bertahun-tahun selalu begitu. Bahkan saat Arum dan Nining tak lagi melintas di jembatan yang sama. Tak ada yang beda. Rumah kedua gadis itu yang berubah. Ada resah menggayut di tiap hati penghuninya. Tak ada lagi berita dari Nining. Surat terakhir dikirim empat bulan lalu. Ada fotonya, lebih kurus dibanding saat ia tinggalkan rumah Bayang hitam di bawah mata menggurat keletihan di wajah. Namun ia tetap berusaha tersenyum.

Kepergian Nining memang mengubah banyak hal. Rumah tak lagi setengah bilik, semua diganti tembok. Cat tak lagi kusam. Lantai semen sudah ditambal keramik. Seng yang dulu berisik dan bocor kala hujan, diganti genting Jatiwangi. Pagar tak lagi pohon teh-tehan, akarnya direnggut lalu diganti pondasi beton. Dahan dan batangnya dari besi tempa. Memang masih ada sedikit daun-daun yang lingkari pagar. Tapi lagi-lagi terbuat dari besi tempa, meski warnanya juga hijau.



Masih terpatri dalam ingatan Arum peristiwa yang menuntun Nining tinggalkan rumah. Abah tergolek lemah di dipan ruang tengah. Sudah seminggu tak mampu bangun. Untuk balikkan badan pun harus dibantu ambu. Saat itu seisi rumah ketakutan, apalagi waktu seekor burung berkicau di pucuk daun kersen, halaman depan. Orang-orang menyebutnya siit uncuwing.


Suara siit uncuwing terus menggigit hati siapa saja yang mendengar. Tak akan berhenti sampai kematian menyusup ke setiap liang angin. Menyusup ke setiap inci pori-pori kusen jendela dan pintu. Siit uncuwing pembawa kabar duka, begitu kepercayaan Enin. Maka perempuan tua itu sibuk kibas-kibaskan sapu lidi.


“Sieuh, sieuh, haling siah, pergi sana, pergi!”


Kali ini Enin melempari dengan kerikil.


“Belum waktunya anakku kau jemput. Sieuh, sieuh, ka sabrang ka Palembang! Saguru saelmu teu meunang ganggu!”


Tetap saja burung itu tak mau pergi. Malah tampak riang. Lompat dari satu dahan ke dahan lain.

“Arum, Nining! Bantu Enin. Naik sana ke pohon kersen!” perintah Ambu, panik. Siit uncuwing kepakkan sayap sedetik sebelum Nining menyambarnya. Ia terbang menuju lembayung.

Entah kebetulan atau bukan, esoknya Abah mulai bisa duduk. Enin peluk buah hatinya dengan haru.

“Komar, cepat sehat, Komar.”



Ambu di pintu dapur usap sebulir bening yang meluncur dari sudut mata. Ada seurai doa di sudut bibir Ambu dalam lengkung yang mendamaikan Arum dan Nining. Tapi, tiga hari kemudian siit uncuwing datang lagi. Mula-mula hinggap di pohon arumanis tetangga sebelah. Waktu melihat Ambu dengan sapu lidinya, siit uncuwing menikam rumpun bambu di ujung jalan. Lalu sorenya siit uncuwing kembali. Tak menapak di mana pun. Berputar-putar mengelilingi atap rumah. Menjerit memanggil kematian. Lepas magrib burung itu menjauh dengan senyap. Tapi tangis ledakkan rumah. Sebab siit uncuwing pergi sambil membawa abah.


Enin dan Ambu berhari-hari, bahkan hingga tahlil seribu hari, tetap salahkan siit uncuwing atas duka yang menancap di hati mereka. Sebetulnya Arum dan Nining tak sependapat dengan dua perempuan itu, terutama Nining. Baginya penyebab kematian Abah bukan siit uncuwing, tapi karena sakit. Sakit, tapi tak diobati. Tak diobati karena mereka tak punya uang, walau sekadar untuk membayar Mantri Abas. Mantri yang menerima bayaran sukarela. Sekadar sukarela pun mereka tak sanggup.

Pendapat itu tentu tak disampaikan Nining pada Enin dan Ambu. Ia hanya katakan pada Arum. Dibisikkan saat para pelayat satu-satu tinggalkan rumah.


“Teteh sakit hati, Rum. Kita musti bisa berubah.”


Kata-katanya pelan sentuh telinga, namun tegas sebagai janji. Pasti. Arum percaya Nining. Tapi Enin tidak sepakat, terlebih Ambu.

“Jangan pergi, anaking. Apa kamu lupa banyak yang tak bisa pulang? Kalaupun pulang tanpa daksa. Malah ada yang sudah tak bernyawa.”


“Geulis,” Enin menambahkan sambil mengunyah sirih dan pinang, “biar susah lebih enak di kampung sorangan. Geulis, incu enin, cari kerja di sini saja. Jadi buruh tani, atau melamar ke pabrik dodol di Ciledug, ke pabrik tenun dekat kerkhoff, atau ke pabrik coklat jalan Cimanuk, atau jadi pelayan toko di Pengkolan.”



Nining tahu, kerja dengan ijazah SMP dan rapor sampai kelas satu SMA tak akan berarti. Gaji yang diterima hanya akan cukup untuk makan sebulan. Itu juga belum tentu cukup.

Sepuluh hari Nining baru bisa yakinkan Enin dan Ambu. Bahkan Ambu rela menjual sawah peninggalan Abah untuk membayar penyalur dan surat-surat keberangkatan, sekaligus ongkos ke Bandung.



Lima bulan pertama Nining tak terima gaji. Katanya harus diserahkan pada agen sebagai ganti biaya perjalanan. Tengah tahun baru bisa kirim uang. Tahun kedua Nining pulang untuk renovasi rumah dan membeli tiga petak sawah. Pengganti sawah Abah, katanya. Tiga bulan kemudian berangkat lagi setelah membantu Ambu buka warung sembako di samping rumah.
“Teteh jangan pergi lagi, teh. Apa lagi yang teteh cari?”



“Teteh pengin kamu jadi dokteranda, Rum. Biar teteh yang cari duit,
pokoknya kamu belajar yang rajin.”

“Mendingan Arum cuma tamat SMA daripada teteh pergi lagi.”



Entah mengapa kali ini Arum yang tak setuju Nining pergi. Tapi lagi-lagi
tak ada yang bisa menahan tekad itu.



Selama setahun, sebulan sekali Nining masih rajin beri kabar. Begitu pula dengan kiriman uang. Tapi tahun berikutnya bukan hanya uang yang tak dikirim. Yang lebih mencemaskan tak ada kabar berita darinya.



Awal Mei.

Sepucuk surat tiba di beranda. Arum membaca keras-keras supaya bisa didengar Enin dan Ambu.



“Arum, bilang sama Enin dan Ambu, Insya Allah September teteh pulang. Teteh maunya bisa munggah sama-sama. Teteh mau lebaran di rumah. Teteh kangen sama kalian bertiga. Doakan teteh supaya bisa pulang.”



Itu kabar terakhir yang mereka terima. Surat terakhir. Lecek. Sebab dibaca berulang-ulang, sampai Arum hafal isinya.

September berjingkat tinggalkan kalender. Oktober siap menyambut. Tapi tetap hambar. Huruf seakan mati tak tergores dalam secuil kertas sekalipun. Arum sudah mencoba hubungi agen yang berangkatkan Nining. Petugas yang menemui hanya menjawab, “Nanti akan kami beri tahu, kalau sudah tahu keberadaannya. Kalau sudah tahu!”

Hanya itu yang bisa jadi pengharapan. Surat Arum untuk Nining tak pernah berbalas. Tak ada alamat lain yang bisa ditelusuri. Khawatir menusuk kepala. Cemas menjadi bola besar, menggerus perasaan. Apalagi sejak dua hari terakhir Ramadhan siit uncuwing kembali menjejak pucuk kersen di halaman depan.

“Awas, indit, ka ditu, ka ditu, sieuh, sieuh!”



Ambu tergopoh, Enin menyusul di belakangnya.

“Ka sabrang ka Palembang, sieuh, sieuh!” teriak keduanya bersahutan.



“Ka sabrang ka Palembang, saguru saelmu teu meunang ganggu!”

Kali ini Arum langsung memanjat pohon kersen, tanpa tunggu perintah Ambu. Ketika siit uncuwing terbang, Arum setengah melompat turun dari pohon. Tak sekejap mata ia biarkan pandangan lepas dari burung itu. Arum mengejarnya, berlari. Tanpa sadar Arum sudah jauh tinggalkan rumah. Berlari menuju jembatan di atas sungai, sungai yang membelah kota kecil itu. Terus mengejar, bahkan ketika burung itu terbang di atas jalan setapak di pinggir jembatan. Menuju sungai.


Ya, siit uncuwing menuju sungai. Burung itu hinggap di batu besar di tengah sungai.


Arum mengendap.



Tinggal sejengkal dari siit uncuwing ketika orang-orang di atas jembatan berteriak, “caah!” Caah!Caah!”



Arum lompat berusaha menangkap siit uncuwing. Namun badannya limbung. Semua buram. Sesak menghimpit dada. Arum hampir tak mampu bertahan saat sayup seiris suara memberi kekuatan, “Arum, ka dieu, ulurkan tanganmu.”


Arum terkejut. Arum tahu pasti, itu suara Nining. Seolah mendapat tenaga, Arum berenang ke arah bayangan di tepi sungai.



“Hayu pulang, geulis.”



Sekali lagi Arum mendengar suara Nining. Arum berhasil genggam tangan Nining, dan semua jadi gelap.


“Teteh, teteh!” teriak Arum saat pertama kali membuka mata.



Tapi Nining tak ada, padahal Arum yakin Nining yang menolongnya. Nining yang memapah mengantar pulang. Arum terobos setiap ruang di rumah itu. Tetap saja, Nining tak ada. Hanya ada Enin dan Ambu yang sedang menangis.


Arum lari ke luar. Di langit ada bulan sepotong.



Di langit ada tiga belas siit uncuwing tanpa suara membawa bingkisan dari negeri berpasir: sekotak peti mati. Di dalamnya ada perempuan dengan bayang hitam di bawah mata dan lebam di sekujur tubuh. Tetap berusaha tersenyum.


Di surau-surau takbir pertama berkumandang…

Lumayan gening karanganna mah!

Tidak ada komentar: